Sabtu, 09 April 2016

Blood Or Tears (Chapter 2)

Manis , dingin , keren , tampan , perfect.
Tidak, dia nyebelin , banyak bertanya , ingin tau segalanya, dan seperti tau segalanya.
Sebelum aku keluar dari pintu itu aku sempat menoleh kebelakang melihat dirinya dari kaca yang didepannya dia sedang menuci tangan, sambil tersenyum lebar. Lalu dia menatap tajam kearah kaca melihatku dan dia tidak lupa tersenyum lebar,lagi. 
Dia misterius.



.....



(Jane POV)



Dasar aneh, kenapa dia harus menajamkan sorot matanya kearah ku? Wah jangan bilang dia menyukaiku? Aku mulai ngelantur.

Sampai saat ini kenapa aku merasakan seseorang mengawasiku. Tidak nyaman, sambil menunggu disini sendirian.

"Ah Joe! Aku sudah menunggumu sangat lama disini."

"Maaf Jane tadi ada sedikit urusan, apa kau sudah tidak tahan? Dilihat dari raut wajahmu kau mengeluarkan pancaran kode." Jawabnya langsung mencium pipiku.

"Joe hentikan."

"Ah baiklah, jadi kau mau kemana?"

"Aku lelah sekali. Apa kita harus tetap berdiri disini? Kau tidak menyuruhku masuk kemobil?"

"Aku sampai lupa, maaf aku terlalu terpesona melihat dandanan mu hari ini." Sambil mencubit pipiku.

Didalam mobil

"Joe kenapa lehermu merah begitu?"

"Tidak ada apa apa."


...


Krek Krek

Saat aku masuk ternyata kakak tidak ada dikamar, aku langsung bersihkan badan lalu istirahat. Sepertinya malam ini aku akan tidur nyenyak kalau tanpa busana, sekian lama akhirnya waktu seperti inilah yang aku tunggu. Tidur nyenyak tanpa kakak. Yeah!


Tidak lama saat aku telah tertidur, aku merasakan ..


"Ahh ahh, Kak kau sudah pulang?" Tanya tanya kecil yang keluar dari mulutku.

"Siapa yang diatas punggungku?"

"Ehmh Kakak hentikan menggelitiki leherku."

"Hhhh"

"Joe ini kau?"

"Kemari kau ku peluk dan tidak akan aku lepas".......

Aku tertidur, aku lelah sekali. Aku tertidur, tetapi tanpa sadar aku menikmatinya. Aku tertidur , lalu merasakan aku membalikkan badan dan memeluknya. Aku tertidur , lalu menciumnya. Aku tertidur , terasa basah. Aku merasakannya..


Kringggg Kringggg (alarm)

"Kakak tidak biasanya kau bangun sepagi ini. Lalu mengapa kau berdiri didepan pintu? Kau mau pergi? Perempuan mana yang pergi sepagi ini menggunakan pakaian klub?"

"Kau mengigau? Jelas aku baru pulang."

"Kau baru pulang..?" Jawabku heran.

"Iya lalu maksudmu? Dan ada apa dengan semua ini? Tidak biasanya kau tidur sekacau ini."

"Entahlah kak aku mendapat mimpi aneh lagi."

...


Tiba di kampus.

Berjalan dikoridor sendirian, merenungkan apa yang terjadi semalam membuatku pusing. dan sejak kapan laki laki aneh ini berada disampingku ?

"Mau apa lagi?"

"Mengganggumu."

"Tidak salah kau pasti kesepian."

"Tidak."

"Lalu?"

"Sudah aku katakan aku ingin mengganggumu."

"Yya terserah. Kenapa kau selalu menggunakan lengan panjang? Kulitmu terlihat halus,kau bersih lalu ini musim panas, kau tidak gerah?"

"Tidak. Siapa yang mengantarmu tadi? Apa begitu gerahnya sampai kau mengendurkan bajumu didalam mobil itu?"

"Kau melihatnya ? Apa urusanmu." Memukulnya kepalanya.
Ah dia begitu menyebalkan. Apa dia penguntit ? ergh


Dikelas.

Saat aku sedang sendiri, dia menghampiri ku dan bertanya banyak hal. Sangat banyak.  Memukul halus berulang kali jika aku tidak menjawab pertanyaan, untungnya ada Alice menjadi alasan agar aku bisa pergi menghindari semua pertanyaannya.

Diperpustakaan.

Dia menghampiriku saat aku sedang membaca buku. Dia membawakan segala macam buku dan menyuruhku untuk membaca semuanya. Tapi aku memberikan semua bukunya ke Alice untuk dikembalikan lagi.

Ditaman.

"Apa kau penguntitnya Jane? Kau pembantunya Jane? Atau jangan jangan kau menyukai Jane?" Tanya Alice menunjuk kearah Steven.

"Apa hubungannya denganmu? Aku juga tidak mengganggumu kan?" Tegas Steven.

"Jelas saja ada hubungannya, aku ada disisinya Jane dan kau laki laki manis yang aneh tiba tiba selalu mengikuti Jane dan seperti sudah akrab saja." Balas Alice mencibir.

"Sudahlah hentikan, aku pusing. Aku pulang duluan ya sepertinya aku butuh tidur."

"Ini semua gara gara kau!" Balas Steven bentak.

"Kau! Kenapa aku?

"Kau yang memulainya!"

"Kau"

"Kau"

"Kau!"


Tidak merasa aneh, aku tidak merasakan gangguan saat Steve mengikuti kami seharian.  Tidak biasanya, dia bertengkar dengan Alice lalu kami pergi ketempat lain seperti tidak ada beban. Dia mendorong secara halus agar aku mengenalnya, merasakan disetiap keberadaannya walaupun setiap kali aku mengacuhkannya. Ini disebut nyaman?


Keesokan harinya.


Pintu utama diblokir garis polisi.
Darah dimana mana.
Helaian rambut dimana mana.
Apa yang terjadi.
Apa ini semua.
Siapa yang melakukan semua ini.
Dan siapa dibalik garis itu?


Aku berjalan menuju keramaian, terlihat banyak sekali polisi disekitar. Garis polisi dimana mana, lalu.
Aku terdiam. Aku terjatuh. Saat aku lihat yang dibalik garis polisi itu adalah Alice.
Apa yang sudah terjadi ? Kenapa Alice ? Ada apa dengan Alice ? Temanku Alice. Kenapa ini, aku merasa pusing. Dan aku berasa akan rebah.


Tok.


Tok.Tok.


Tok.Tok.Tok.


Tok.

Saat aku terbangun, aku berada disebuah kamar. Terbangun karena suara ketukan jendela dibelakangku. Aku sangat lemas sekali, susah untuk mengerti keadaan sekarang.

Tok.Tok.


Tok.!


Aku kebingungan sekali, tetapi setelah itu ada bunyi ketukan lagi.
Karena penasaran aku menoleh kebelakang kearah jendela dimana bunyi itu berasal, namun tidak ada apa apa.
Aku terotomatis menghadap kedepan lagi untuk membenahkan diri untuk kembali tidur tetapi







 JRRREEENGGG!!



KAU TIDAK TIDUR?



............................... 



Fyi:
Blood Or Tears masih memiliki banyak kelanjutan dan Chapter 1,2 belum menjadi akhirnya. Chapter selanjutnya akan diposting jika pembaca menyukai ceritanya. Terimakasih.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar