(Jane POV)
"Akh jangan lakukan ini aku mohon."
"Aaakkhhh telingaku sakit , hentikan ini !!"
"Hah hah siapa? Perlihatkan dirimu!! "
"Akhhh!! Punggungku !! Hentikan menggoresnya dengan benda tajam !!"
"Tolong bukakan benda ini dari mukaku aku sesak."
"Akh itu sakit apa yang kau lakukan dengan rambutku?"
"Aku mohon , siapa kau sebenarnya?"
"Hentikan ini semua aku takut."
"Akkhh aaaaaaaaakkhhh aaaakkhh ."
"Jariku .. jariku.. "
"Kau memotong jariku ?"
"Kau memotong jariku !!"
"Kau !!"
........
Hah hah hah
Saat aku bisa membuka mata aku tersadar , itu hanya mimpi. Aku
selalu mendapat mimpi buruk akhir akhir ini. Saat aku terbangun ternyata kakak,
ada saja yang dilakukan kakak terhadapku saat dia tertidur diranjangku dan kali
ini dia menggigit jariku. Masuk di Universitas Yale. Aku tinggal bersama kakak,
dia selalu menemaniku diapartemen tetapi hanya saat dia sedang cuti.
Dan perkenalkan namaku Jane Heigl.
...
Blood Or Tears
"Pagi Kak, kau sudah bangun?"
"Ehm pagi Jane , kau bangun pagi sekali hari ini.
Tidurmu nyenyak?"
"Nyenyak sekali, aku langsung pergi kekampus. Dan ohya
kapan kau datang? kenapa kau bisa diranjangku ? Lihat semua pakaian dalam mu
dilantai kamarku, bereskan semua. Aku pergi."
"Aku tidak yakin kapan aku datang, aku ingin memberi
suprise ternyata kau sangat menarik saat tertidur, hati hati Jane serahkan
semuanya padaku haha!!"
"Ya ya."
Saat aku akan memasuki gerbang besar ini , ini seperti hari
pertamaku pergi kekampus. karna selama satu bulan kemarin aku ingin fokus
menulis novel dan bersenang senang bersama Joe. Jonathan Turner atau Joe dia
kekasihku , kami menjalin hubungan baru lima bulan entah aku sudah mengenalnya
atau belum dia orang yang sangat dingin dan tertutup tetapi aku mencintainya. Masuk
keprogram kedokteran hanya untuk memenuhi keinginan orang tua. Ku harap kakak
tidak tau keadaan ini.
Diruang
praktek
"Sudah sekian lama tidak menghadiri kelas tetapi
keberanianmu memotong dan menyayat tubuh selalu yang terbaik , Jane."
"Ini tidak masalah Al ini hanya mayat kan?."
"Wah kau sungguh sungguh."
"Siapa dia?"
"Siapa? Ah itu Sam yang bodoh. Kau tidak mengingatnya
setelah kau bersenang senang?"
"Bukan dia, dibelakangnya."
"Clack tepat sekali, sudah kuduga kau akan tertarik
dengannya, dia baru pindah selama kau tidak hadir. Tanpamu aku bisa bersenang
senang dengannya." Sahut Alice dengan mengedipkan satu mata.
"Namanya?"
"Namanya mmm maka dari itu kau harus menghampirinya ,
dan tanyakan padanya."
"Kau tidak tau namanya?"
"Hanya belum tau saja."
"Kau bilang tadi bersenang senang dengannya , ah sudahlah
aku tidak berniat ingin tau. Dia tidak
mempunyai teman ? Kurasa dia
kesepian."
"Aku terus mengamatinya, tapi tidak satupun ada respon
saat dia diajak berbicara. Dengan siapapun."
"Sungguh?"
"Tidak, aku hanya bercanda."
"Alice kurasa kulitmu sangat mulus, dan kau lihat aku
sedang meggenggam pisau."
"Ah hehe maksudku iya, dia hanya tersenyum dan selalu
tersenyum."
"Begitu, dia memang manis." Jawabku terpana.
"Jane! Apa kau akan mengiris mayat ini sambil menatap laki laki itu terus menerus? Mungkin bisa saja kau mengiris tanganku sambil menatapnya seperti sekarang."
"Mau coba?"
"Begundal ini , apa aku masih dianggap teman oleh mu."
"Aku penasaran."
"Kau bicara apa?"
"Ah tidak."
...
Apa kakak menggigit ku sangat kuat semalam saat aku
tertidur? Bekas gigitannya masih ada.
Diruang praktek sangat menyeramkan saat sedang sendiri
terlebih lagi sedang mencuci tangan. Ruangan yang dingin , sunyi dan hanya aku
berdiri didepan kaca yang luas ini. Bagaimana aku bisa sesantai ini dan teganya
Alice pergi tanpa diriku. Aku seperti anak baru yang tidak mempunyai siapa siapa
sekarang.
"Diruang ini bisa untuk wanita dan laki laki dan kenapa
hanya ada aku yang cuci tangan disini? hm." Gumamku sambil menunduk
mencuci tangan.
"Kau
tidak sendiri."
Tiba tiba
terdengar suara tepat di telinga kanan ku.
"Hah
siapa kau?" Teriak ku.
"Kenapa terlalu terkejut? Aku tidak membunuhmu."
"Seseorang berbisik ditelingaku bagaimana aku tidak
terkejut." Lanjut mencuci tangan.
"Aku hanya mencoba menyapa, apa aku terlalu menakutimu?
Yang kutau kau dari tadi hanya melihat kearahku saat dikelas." Jawabnya
sambil nyengir.
"Kenapa aku harus menoleh kearahmu? Yang benar saja."
"Ah bearti aku yang salah , maaf namaku Steven. Steven
Stayner, lalu kau?"
"Aku tidak bertanya." Jawabku sambil melihatnya
dari kaca.
"Wah sepertinya aku salah lagi maaf kufikir kau ingin
tau. Dan .. kau mempunyai jari yang manis, siapa yang berani melukakan itu pada
jari jari manis mu sampai kau berdiri disini hampir 30 menit."
"Bukan urusanmu." Sinis melihat matanya.
...
Aku
langsung pergi setelah menjawab pertanyaannya, atau bisa dibilang aku
mengacuhkannya lalu pergi meniggalkannya.
Manis , dingin , keren , tampan , perfect.
Tidak, dia nyebelin , banyak bertanya , ingin tau
segalanya, dan seperti tau segalanya.
Sebelum aku keluar dari pintu itu aku sempat menoleh
kebelakang melihat dirinya dari kaca yang didepannya dia sedang menuci tangan,
sambil tersenyum lebar. Lalu dia menatap tajam kearah kaca melihatku dan dia tidak lupa tersenyum lebar,lagi.
Dia misterius.
Makin bagus tulisannya ghe, ditunggu cerita selanjutnya :)
BalasHapusHehe makasii okay ;)
HapusUhuyy gheaaa next chapter ditunggu~~
BalasHapushihi thanks to reading :D
BalasHapus