Rabu, 27 Juli 2016

Swivel Mind

Degub degub degub degub degub degub. 

Suara jantung dari gadis kecil berambut pirang yang bersembunyi dibalik sofa. Dengan posisi badan yang menerungkup, matanya sangat hati-hati , badanya menyeret kedepan saat dia melihat bayangan langkah kaki yang lambat menuju kearahnya. Tap tap tap tap tap. Langkah itu semakin mendekat. Semakin mendekat kearahnya. Ternyata langkah itu melewatkannya, sejenak ia menghela nafas. Tiba tiba sosok wajah bertopeng tepat dihadapannya! Apalagi yang akan dilakukan oleh gadis kecil itu selain menjerit ketakutan. THE PURGE. Siapa yang tidak tau dengan film horror tersebut? Asiknya menikmati film horror pada saat liburan sekolahTerutama bagi gadis berjilbab satu ini yang bernama Tara. Sedang berkumpul bersama dua orang temannya yaitu Dini dan Retha tampak selalu bersama buku ditangannya. 




Tara : "Ah, ga serem." Keluhnya yang asyik menonton.

Dini : “Ohya tadi malem, aku habis baca tes psikopat di sebuah artikel.” Sahutnya, posisi santai diatas kasur sambil menscroll ponsel miliknya.

Tara : “Terus?” Tanya dengan nada acuh.

Dini : “Nah makanya aku mau nunjukin ini ke kalian, buat liat kalian itu berpotensi jadi psikopat atau nggak.”


 " . . . . . . . "
     
Dini : “Lah dicuekin.“

Tara : “Yaudah apa?”

Dini : “Oke nih ya denger baik baik. Soal yang pertama, jika ada seorang tetanggamu yang jarang terlihat,menurutmu apa yang terjadi padanya ?”

Tara : “Mm sibuk kerja?

Retha : “Mungkin kurang suka keramaian.” Jawabnya sambil membalik lembar kertas sebuah novel yang tengah dibacanya.

Dini : “Ikut jawab juga, tadi dicuekin. Eem jawaban versi normalnya mungkin kalian bakal jawab dia sibuk kerja, tapi versi piskopat  bakal bilang kalo orang ini tidak suka keramaian. Yang kedua, warna apa yang  akan kamu pilih jika diberikan warna merah, hitam, putih dan kuning?”

Tara : “Merah.”

Retha : “Aku suka maroon.

Dini : “Please maroon? Hmm jadi menurut jawaban yang disini, orang normal bakal milih warna warna lain, dan warna putih itu menunjukkan warna psikopat. Karena cenderung tidak memiliki emosi. Masuk akal juga.
Lanjut, jika kalian ada disebuah hotel dilantai 10. Kalian melihat ada seorang pembunuh sedang menghabisi korbannya. Tidak sengaja pembunuh itu melihat kalian, dan mengarahkan jarinya ke wajah seperti membuat gesture. Apa yang dia lakukan?”

Tara : “Umm, mungkin dia lagi ngitung lantai tempat kita tinggal?” Jawabnya dengan mengerutkan dahinya.

Retha : “Sama."

Dini : “Wah wah jawaban kalian berdua sama seperti versi psikopat nih. Ini yang terakhir, jika kalian harus membunuh korban yang sedang bersembunyi di lemari, apa yang bakal kalian lakukan?”

Tara : “Gedor-gedor , kalau tidak dobrak lemarinya.”

Retha : “Aku tidak mau ribet, tunggu aja sampai dia keluar sendiri.” Menjawab tanpa menghilangkan pandangan matanya dari buku yang dia baca.

Dini : “Oke jawaban versi normalnya adalah kalian mungkin bakal langsung dobrak lemari, langsung bunuh gitu aja. Tapi kalo versi psikopatnya dia bakal nunggu korbannya buat keluar. Jadi Tara .. bener 1 salah 3 sedangkan Retha, kamu bener 3 salah 1.
Yaampun Retha ternyata kamu pi..si..ko..pat?



Retha :”Itu hanya tes.

Tara : “Yaaa, iya sih reth tapi . . Tapi gimana kalo seandainya emang ada psikopat beneran kalian takut nggak?”

Retha : “Boleh la.”

Dini : “Aku enggak sih, apa yang perlu ditakutin selagi dia gak jahat sama kita haha.”

Tara : “Kalo jahat hayo gimana? Terus dia ngikutin kalian , nyeremin , bawa-bawa pisau , terus bun..

Retha :Ngomongin apa sih.” Memotong omongan Tara.

Tara : “Yah Retha gitu amat nanya doang juga.”

Retha : ”Pulang ya, mamaku sudah suruh pulang.” Langsung menutup bukunya dengan wajah dingin dan berjalan keluar kamar.

      Dini dan Tara serentak saling bertatap dan mengangkat bahu mereka. Dengan raut wajah bingung mengapa Retha langsung pulang dengan tiba-tiba. Karena suasananya begitu canggung mereka berdua pun memutuskan untuk tidak melanjutkan.      
       

Tick tack tick tack tick tack tick tack.

Pukul 22.57

   Suasana sunyi dikamar Dini karena semua orang dirumah sudah tertidur. Hanya detak dari jam yang menemaninya. Tanpa cahaya. Dini sedang berbaring dikamar sedang memainkan ponselnya. 

“Coba chat Tara sama Retha di grup ah.”

. . .

“Hm gak dibales, sepertinya sudah tidur mereka yaudah au tidur ajalah.”


Pukul 00:00


Drrrt.. Drrrt .. Drrrt .. Drrrt .. Drrrt

Suara musik yang keras dan perasaan getar yang keras memecahkan kesunyian. Ponsel Dini yang diletakkan di nakas berbunyi. Dini yang setengah sadar mencari dimana letak ponselnya yang berdering itu dalam suasana gelap.

“Siapa sih malem-malem gini nelfon, gak ada kerjaan banget.” Menatap ponselnya dengan cukup lama.

"Private Number ? Masih ada hari gini pake nomor seperti itu ? Halo?”

" . . . "

“Halo siapa?”

". . ."

“Ah rese deh." Hentaknya.

  Karena merasa kesal tidurnya diganggu, jadi dia tidak terlalu memikirkan siapa yang menelfon. Dini melanjutkan tidurnya. Lalu. Ponselnya berdering lagi dengan pengenal yang sama. Private number. Dini yang belum tidur lama langsung mengangkat telfon itu tanpa fikir lagi.



“Halo? Halooo? 

*call ended* 

Halo? Mati? Ini apaan sih bikin bete."

    Karena merasa sangat terganggu, Dini men-silentkan ponselnya. Dan melanjutkan tidur. Namun, tanpa dia sadari ponselnya terus mendapat telfon dari private number. 


   Keesokan harinya Dini, Tara dan Retha sedang disebuah tamanMengisi hari libur mereka dan tidak lupa untuk belajar bersama . Tidak ketinggalan, Dini langsung menceritakan apa yang dialaminya pada malam itu. Seperti biasa, Retha yang dingin dengan sebuah novel ditangannya itu berkata kalau itu hanyalah lelucon yang tidak harus dicemaskan. Mendengar jawaban Retha, Dini selalu mengejek Retha saat itu kalau dia adalah psikopat karena sikapnya yang dingin, acuh tak acuh dengan masalah telfon private number itu. Suasana yang menyenangkan berkumpul bersama teman sambil belajar disebuah taman. Mereka sangat menikmatinya. Tetapi suasana menjadi sunyi dan canggung setelahnya. Dini tampak gelisah ingin mengatakan sesuatu, namun teman-temannya sedang menikmati belajarnya. 

Dini : “Teman-teman, sebenarnya.. sebenarnya.. aaku bukan ditelfon pada malam itu saja. Aku sudah hampir digangguin seharian. Pada jam-jam tertentu. Mengertikan maksudku?”

Tara : "...Ehm sebenarnya aku juga gitu."

Dini :Maksud kamu?" Tanyanya dengan mengerutkan dahi karena tidak percaya.

Tara : “Iya, aku juga dapat telfon, sama kaya kamu.” Tara menatap kedua temannya, dengan pandangan serius dan sangat cemas.

Dini  : “Beneran? Trus?”

Tara : “Ya.. aku angkat soalnya penasaran. Tapi tidak ada suara apa apa. Setelah aku matikan dia nelfon lagi. Dan baru berhenti waktu udah jam 1.

Dini : “Ternyata bukan cuma aku.




Retha : “Malam ini nginep di rumahku aja, orang tua keluar kota cuma aku sama kakak dirumah. Untuk mastiin apakah orang tidak jelas itu masih menelfon atau tidak.” Sahutnya memotong sebuah suasana cemas itu. Tetapi dia tidak memindahkan pandangan dari buku yang dibacanya, seperti biasa.

Tara : "Kok kamu tiba-tiba ngajak nginep? Oh iya Reth cuma kamu lho yang tidak ditelfon, kok gitu ya?"

Dini : "Bener juga, jangan-jangan kamu lagi yang iseng kan? Kamu juga yang paling tidak takut soal masalah ini , terus kamu.."

Retha : "Berisik deh mau apa enggak?" Sambil menyeringai.

Dini : “Serem deh Reth. Boleh deh gara-gara itu aku jadi penakut banget. Mau kemana mana takut, ke wc takut, ke dapur takut, keluar takut, semuanya jadi takut.”


Tara : “Siapa ya yang bilang kemarin kalo dia nggak takut sama psikopat?"

Dini : “ Y-ya kan sekarang ini ceritanya lain lagi, emang kamu gak takut?”

Tara : “Takut sih takut, takut banget malah. Tapikan seharusnya kamu gak usah ngomong gitu kalo kenyataan nya kamu penakut. Haduh Dini Dini.”

Retha : “Setuju.”

Dini : “Iya aku takut. Hm puas.“ Memalingkan pandangannya dari teman-temannya.

Tara : “Yaudah kita pulang aja ya. Kita siap-siap, trus kerumah Retha.” Jawabnya dengan muka penuh semangat dan senyum lebar.

Dini : “Reth aku langsung kerumah kamu aja soalnya aku tidak berani pulang sendirian, kalo sama kamu Reth aku aman. Kan kamu psiko juga .. eh hehe.

Retha : “Terserah Din.”

Dini : “Hehe canda , ayo lah.”

   Setelah membuat kesepakatan, akhirnya mereka setuju untuk menginap dirumah Retha. Tanpa fikir dan banyak penjelasan mereka selalu mengaitkan hal yang tidak begitu besar pada psikopat. Namun, mereka malam ini akan mencari jawabannya dari  masalah sepele yang mereka alami tersebut. Mereka berkemas dengan buku-buku yang berantakan diatas rerumputan.


20.02 pm

Dini : “Kok kamu biasa aja sih Reth?”

Retha : “Maksudnya?" Sambil memainkan ponselnya dan earphone yang digunakannya.

Dini : “Gak ada takut atau cemas atau apa gitu?”

Retha : “Biasa aja.”

Dini : “Biasa aja biasa aja terus, mana sih Tara? Tapi bukan Tara namanya kalo tidak telat.

Retha : "Cerewet banget Din."

Dini : "Bodo."

Tidak lama kemudian .. 

Tara : “Maaf telat, udah hampir jam 9 ya.” Menyeringai.

Retha : “Sampai jam 12 juga gak apa-apa.”

Tara : “Gitu banget hehe” Langsung duduk disebelah Retha.

Dini : “Yaudah, terus mau ngapain?”

Retha : "Aku ambil cemilan dulu"

Dini :"Yang banyak Reth hehe."

Retha : "Berisik bawel." Jawabnya sambil meninggalkan tempat duduknya.

Dini :" Hehe, ohiya Tar kamu telat mulu."

Tara : "Hehe maaf , kamu ngapain aja selama nunggu aku sama Retha? Bukannya Retha orangnya ngebosanin?"

Dini : "Haha iya bener haduh dia itu nyebelin tapi aku enggak bosan buat resehin dia. Eh mumpung Retha tidak ada nih, kamu ingat tidak Retha pernah bilang rumahnya  kalau mau matikan lampu tinggal tepuk tangan aja sekali."

Tara : "Ohya? . . Ah iya aku ingat. Mau coba?"

Dini : "Boleh hehe kamu deh coba."

Tara : "Satu, dua, tiga." *PAK* 

Lampu padam.



Menepuk tangannya dua kali dengan jeda lalu lampu padam sebentar lalu hidup kembali.

Dini : "Tar, aku tadi kaya ngeliat bayangan dijendala, berdiri dijendela belakang kamu."

Tara : "Retha kali." 

Dini : "Apa iya? Tapi bayangannya bawa.. Ih serem Tar. Ngh." Jawabnya sambil mengepit pipinya dengan kedua telapak tangannya.

Retha :"Lagi ngomongin apa? Bantuin bawa coba." Membawa makanan yang banyak

Dini : "Yeey makan makan."

Tara : "Minum air putih doang Reth?" 

Retha :"Untung aja aku sediain makanan banyak, minum mau request juga?"

Dini :"Iya nih Retha pelit, hu dasar psiko pelit."

Tara :"Yaudah aku keluar dulu beli minum, makananya jangan dihabisin."

Retha :"Hati-hati sudah malam."

22.07


 Cukup lama waktu berlalu. Mereka belum mendapatkan tanda apa-apa. Saat itu Retha tengah baring diruang tamunya sendirian sambil membaca buku (ps: Jangan dicontoh ya, tidak baik membaca buku sambil baring. Nanti matanya rusak. Hehe)  . Dini datang kembali dan bergabung lagi dengan Retha diruang tamu.



Dini : "Engga bosan Reth dari tadi baca buku?"

Retha : “Lega BAB? 

Dini : “Iya udah lega hehe . Ohiya, Tara mana?” Dengan memutarkan matanya pada seluruh ruangan.

Retha : “Belum pulang.”

Dini : “Oh, tadi aku nemuin ini diwastafel.” Mengeluarkan selembar kertas dari saku bajunya memberikannya pada Retha.

Retha : “Apaan nih?” 


Turn. 1+1 = min 22CT3

Dini : “Enggak ngerti juga, mungkin kode jawaban ujian matematika?

Retha : “Mmm. Oh! Ini kode, pernah baca Riddle gitu? Kode-kode ginian biasanya sering dipakai. Tapi siapa yang ninggalin ini?”

Dini : “Ga tau. Yaudah terus mau diapain?”

Retha : “Kalo gak salah kakak aku jago soal ginian. Dia sudah tidur belum ya?”


Setelah menemukan kertas bertuliskan kode aneh tersebut, Retha dan Dini menuju kekamar Kakaknya yang dimaksud untuk mencari apa artinya. 


Tok Tok Tok.


Retha : "Kak sudah

Jumat, 17 Juni 2016

The Only Reason



..........

   Lipstik merah warnai bibir seksinya. Coklat terang berikat berantakan adalah rambutnya. Kulit lembutnya yang cerah dipancarkan cahaya sinar matahari yang datang dari luar mobil tatkala menggunakan kacamata besar untuk melindungi pandangannya.
Open up my eyes and tell me who I am. Let me in on all your secrets. No inhibition, no sin. How deep is your love? Is it like the ocean? What devotion? Are you? How deep is your love? Is it like nirvana?. Hit me harder again. How deep is your love? How deep is your love? Dentuman Calvin  Harris  yang membuatnya mengangguk-angguk dari sebuah ponselnya. Dia menikmatinya dengan tampak mencemaskan sesuatu.

"Sudah sampai Mis."

Kaki panjangnya yang sangat menawan dengan celana pendek turun dari mobil. Memancarkan kharisma yang kuat, Raechel Russell.



The Only Reason


"Welcome honey."


Pemuda tinggi berambut maskulin dengan kaos sederhana yang dikenakannya, merentangkan kedua tangannya dengan menggenggam seikat bunga disebelah tangan kanan. Dia Denald,Ryan Denald kekasihnya Raechel Russel.

"Siapa kamu?" Tanya sinis Raechel.

"You ask who I am? Hah I'm your boyfriend,Baby you're kidding, right?"

Sabtu, 09 April 2016

Blood Or Tears (Chapter 2)

Manis , dingin , keren , tampan , perfect.
Tidak, dia nyebelin , banyak bertanya , ingin tau segalanya, dan seperti tau segalanya.
Sebelum aku keluar dari pintu itu aku sempat menoleh kebelakang melihat dirinya dari kaca yang didepannya dia sedang menuci tangan, sambil tersenyum lebar. Lalu dia menatap tajam kearah kaca melihatku dan dia tidak lupa tersenyum lebar,lagi. 
Dia misterius.



.....


Rabu, 06 April 2016

Blood Or Tears (Chapter 1)

(Jane POV)


"Akh jangan lakukan ini aku mohon."

"Aaakkhhh telingaku sakit , hentikan ini !!"

"Hah hah siapa? Perlihatkan dirimu!! "

"Akhhh!! Punggungku !! Hentikan menggoresnya dengan benda tajam !!"

"Tolong bukakan benda ini dari mukaku aku sesak."

"Akh itu sakit apa yang kau lakukan dengan rambutku?"

"Aku mohon , siapa kau sebenarnya?"

"Hentikan ini semua aku takut."

"Akkhh aaaaaaaaakkhhh aaaakkhh ."

"Jariku .. jariku.. "

"Kau memotong jariku ?"

"Kau memotong jariku !!"

"Kau !!"

"Kau!!!!

Selasa, 29 Maret 2016

After Rain





There is no love without forgiveness, and there is no forgiveness without love.
When you finally let go of the past, something better comes along.
_____________________________



    Nama ku Makita Yuuri, duduk dibangku kelas 12 kesenian di SMA Suimei. Bagiku setiap hari sama saja, aku merasa bosan dimanapun. Disekolah aku biasa menyendiri, oh tidak namun aku bersama ipod ku, laptop, dan beberapa komik yang sering kubawa. Dan tidak ada yang terganggu akan hal itu, mereka juga tidak peduli ada tidak ada aku pun tidak merubah suasana dikelas ini.


 Jepang kota yang tenang , hidupku berasa damai dan tentram semenjak disini.