Degub degub degub degub degub degub.
Suara jantung dari gadis kecil berambut pirang yang bersembunyi dibalik sofa. Dengan posisi badan yang menerungkup, matanya sangat hati-hati , badanya menyeret kedepan saat dia melihat bayangan langkah kaki yang lambat menuju kearahnya. Tap tap tap tap tap. Langkah itu semakin mendekat. Semakin mendekat kearahnya. Ternyata langkah itu melewatkannya, sejenak ia menghela nafas. Tiba tiba sosok wajah bertopeng tepat dihadapannya! Apalagi yang akan dilakukan oleh gadis kecil itu selain menjerit ketakutan. THE PURGE. Siapa yang tidak tau dengan film horror tersebut? Asiknya menikmati film horror pada saat liburan sekolah. Terutama bagi gadis berjilbab satu ini yang bernama Tara. Sedang berkumpul bersama dua orang temannya yaitu Dini dan Retha tampak selalu bersama buku ditangannya.
Suara jantung dari gadis kecil berambut pirang yang bersembunyi dibalik sofa. Dengan posisi badan yang menerungkup, matanya sangat hati-hati , badanya menyeret kedepan saat dia melihat bayangan langkah kaki yang lambat menuju kearahnya. Tap tap tap tap tap. Langkah itu semakin mendekat. Semakin mendekat kearahnya. Ternyata langkah itu melewatkannya, sejenak ia menghela nafas. Tiba tiba sosok wajah bertopeng tepat dihadapannya! Apalagi yang akan dilakukan oleh gadis kecil itu selain menjerit ketakutan. THE PURGE. Siapa yang tidak tau dengan film horror tersebut? Asiknya menikmati film horror pada saat liburan sekolah. Terutama bagi gadis berjilbab satu ini yang bernama Tara. Sedang berkumpul bersama dua orang temannya yaitu Dini dan Retha tampak selalu bersama buku ditangannya.
Tara : "Ah, ga serem." Keluhnya yang asyik menonton.
Dini : “Ohya tadi malem, aku habis baca tes psikopat di sebuah artikel.” Sahutnya, posisi santai diatas kasur sambil menscroll ponsel miliknya.
Tara : “Terus?” Tanya dengan nada acuh.
Dini
: “Nah makanya aku mau nunjukin ini ke kalian, buat liat kalian itu berpotensi jadi psikopat atau nggak.”
" . . . . . . . "
Dini : “Lah
dicuekin.“
Tara : “Yaudah apa?”
Dini
: “Oke nih ya denger baik baik. Soal yang pertama, jika ada
seorang tetanggamu yang jarang terlihat,menurutmu apa yang terjadi padanya ?”
Tara : “Mm sibuk kerja?”
Retha : “Mungkin kurang
suka keramaian.” Jawabnya sambil
membalik lembar kertas sebuah novel yang tengah dibacanya.
Dini
: “Ikut jawab juga, tadi dicuekin. Eem jawaban
versi normalnya mungkin kalian bakal jawab dia sibuk kerja, tapi versi
piskopat bakal bilang kalo orang ini
tidak suka keramaian. Yang kedua, warna apa yang akan kamu pilih jika diberikan warna merah,
hitam, putih dan kuning?”
Tara : “Merah.”
Retha : “Aku suka maroon.”
Dini : “Please maroon? Hmm jadi menurut
jawaban yang disini, orang normal bakal milih warna warna lain, dan warna putih itu menunjukkan warna psikopat. Karena
cenderung tidak memiliki emosi. Masuk akal
juga.
Lanjut, jika kalian ada disebuah hotel dilantai 10. Kalian melihat
ada seorang pembunuh sedang menghabisi
korbannya. Tidak sengaja pembunuh itu melihat kalian, dan mengarahkan jarinya
ke wajah seperti
membuat gesture. Apa yang dia lakukan?”
Tara : “Umm, mungkin dia lagi ngitung lantai tempat kita
tinggal?” Jawabnya dengan mengerutkan dahinya.
Retha : “Sama."
Dini
: “Wah wah jawaban kalian berdua sama seperti versi psikopat nih. Ini yang terakhir, jika kalian harus membunuh korban yang sedang bersembunyi di lemari,
apa yang bakal kalian lakukan?”
Tara : “Gedor-gedor , kalau tidak dobrak lemarinya.”
Retha : “Aku tidak mau ribet, tunggu aja sampai dia keluar sendiri.” Menjawab tanpa menghilangkan pandangan matanya dari buku yang dia baca.
Dini : “Oke jawaban versi normalnya adalah kalian mungkin bakal
langsung dobrak lemari, langsung bunuh gitu aja. Tapi kalo versi psikopatnya dia
bakal nunggu korbannya buat keluar. Jadi Tara ..
bener 1 salah 3 sedangkan Retha, kamu bener 3 salah 1.
Retha
:”Itu hanya tes.”
Tara
: “Yaaa, iya sih
reth tapi . . Tapi gimana kalo
seandainya emang ada psikopat beneran kalian takut nggak?”
Retha : “Boleh
la.”
Dini : “Aku enggak sih, apa yang perlu ditakutin selagi dia gak jahat sama kita haha.”
Tara : “Kalo jahat hayo gimana? Terus dia ngikutin kalian , nyeremin , bawa-bawa pisau , terus bun..”
Retha :”Ngomongin apa sih.” Memotong omongan Tara.
Tara : “Yah Retha gitu
amat nanya doang juga.”
Retha : ”Pulang ya, mamaku sudah suruh pulang.” Langsung menutup bukunya dengan wajah dingin dan berjalan keluar kamar.
Dini dan Tara serentak saling bertatap dan mengangkat bahu mereka. Dengan raut wajah bingung mengapa Retha langsung pulang dengan tiba-tiba. Karena suasananya begitu canggung mereka berdua pun memutuskan untuk tidak melanjutkan.
Tick tack tick tack tick tack tick tack.
Pukul 22.57
Suasana sunyi dikamar Dini karena semua orang dirumah sudah tertidur. Hanya detak dari jam yang menemaninya. Tanpa cahaya. Dini sedang berbaring dikamar sedang memainkan ponselnya.
Pukul 22.57
Suasana sunyi dikamar Dini karena semua orang dirumah sudah tertidur. Hanya detak dari jam yang menemaninya. Tanpa cahaya. Dini sedang berbaring dikamar sedang memainkan ponselnya.
“Coba
chat Tara sama Retha di grup ah.”
. . .
. . .
“Hm gak dibales, sepertinya sudah tidur mereka yaudah au tidur ajalah.”
Pukul 00:00
Drrrt.. Drrrt .. Drrrt .. Drrrt .. Drrrt
Drrrt.. Drrrt .. Drrrt .. Drrrt .. Drrrt
Suara musik yang keras dan perasaan getar yang keras memecahkan kesunyian. Ponsel Dini yang diletakkan di nakas
berbunyi. Dini yang setengah sadar mencari dimana letak ponselnya yang berdering itu dalam suasana gelap.
“Siapa sih malem-malem gini nelfon,
gak ada kerjaan banget.” Menatap ponselnya dengan cukup lama.
"Private Number ? Masih ada hari gini pake nomor seperti itu ? Halo?”
" . . . "
“Halo siapa?”
". . ."
“Ah rese deh." Hentaknya.
Karena merasa kesal tidurnya diganggu, jadi dia tidak terlalu memikirkan siapa yang menelfon. Dini melanjutkan tidurnya. Lalu. Ponselnya berdering lagi dengan pengenal yang sama. Private number. Dini yang belum tidur lama langsung mengangkat telfon itu tanpa fikir lagi.
Karena merasa kesal tidurnya diganggu, jadi dia tidak terlalu memikirkan siapa yang menelfon. Dini melanjutkan tidurnya. Lalu. Ponselnya berdering lagi dengan pengenal yang sama. Private number. Dini yang belum tidur lama langsung mengangkat telfon itu tanpa fikir lagi.
“Halo? Halooo?
*call ended*
Halo? Mati? Ini apaan sih bikin bete."
Karena merasa sangat terganggu, Dini men-silentkan ponselnya. Dan melanjutkan tidur. Namun, tanpa dia sadari ponselnya terus mendapat telfon dari private number.
*call ended*
Halo? Mati? Ini apaan sih bikin bete."
Karena merasa sangat terganggu, Dini men-silentkan ponselnya. Dan melanjutkan tidur. Namun, tanpa dia sadari ponselnya terus mendapat telfon dari private number.
Keesokan harinya Dini, Tara dan Retha sedang disebuah taman. Mengisi hari libur mereka dan tidak lupa untuk belajar bersama . Tidak ketinggalan, Dini langsung menceritakan apa yang dialaminya pada malam itu. Seperti biasa, Retha yang dingin dengan sebuah novel ditangannya itu berkata kalau itu hanyalah lelucon yang tidak harus dicemaskan. Mendengar jawaban Retha, Dini selalu mengejek Retha saat itu kalau dia adalah psikopat karena sikapnya yang dingin, acuh tak acuh dengan masalah telfon private number itu. Suasana yang menyenangkan berkumpul bersama teman sambil belajar disebuah taman. Mereka sangat menikmatinya. Tetapi suasana menjadi sunyi dan canggung setelahnya. Dini tampak gelisah ingin mengatakan sesuatu, namun teman-temannya sedang menikmati belajarnya.
Dini : “Teman-teman, sebenarnya.. sebenarnya.. aaku bukan ditelfon pada malam itu saja. Aku sudah hampir digangguin seharian. Pada jam-jam tertentu. Mengertikan maksudku?”
Tara : "...Ehm sebenarnya aku juga gitu."
Dini : “Maksud kamu?" Tanyanya dengan mengerutkan dahi karena tidak percaya.
Tara : “Iya, aku juga dapat telfon, sama kaya
kamu.” Tara menatap kedua temannya, dengan pandangan serius dan sangat cemas.
Dini : “Beneran?
Trus?”
Tara : “Ya.. aku angkat soalnya penasaran. Tapi tidak ada
suara apa apa. Setelah aku matikan dia nelfon lagi. Dan baru berhenti waktu udah jam
1.”
Retha
: “Malam ini nginep di rumahku aja, orang tua keluar
kota cuma aku sama kakak dirumah. Untuk mastiin apakah orang tidak jelas itu masih menelfon atau tidak.” Sahutnya memotong sebuah suasana cemas itu. Tetapi dia tidak memindahkan pandangan dari buku yang dibacanya, seperti biasa.
Tara : "Kok kamu tiba-tiba ngajak nginep? Oh iya Reth cuma kamu lho
yang tidak ditelfon, kok gitu ya?"
Dini : "Bener juga, jangan-jangan kamu lagi yang iseng kan? Kamu juga
yang paling tidak takut soal masalah ini , terus kamu.."
Retha : "Berisik deh mau apa enggak?" Sambil menyeringai.
Dini
: “Serem deh Reth. Boleh deh gara-gara itu aku jadi penakut banget. Mau kemana mana
takut, ke wc takut, ke dapur takut, keluar takut, semuanya jadi takut.”
Tara
: “Siapa ya yang bilang kemarin kalo dia nggak takut sama psikopat?"
Dini
: “ Y-ya kan sekarang ini ceritanya lain lagi, emang
kamu gak takut?”
Tara
: “Takut sih takut, takut banget malah. Tapikan seharusnya kamu gak usah ngomong gitu kalo kenyataan nya kamu penakut. Haduh Dini Dini.”
Retha : “Setuju.”
Dini : “Iya aku takut. Hm puas.“ Memalingkan pandangannya dari teman-temannya.
Tara : “Yaudah kita pulang aja ya. Kita siap-siap, trus kerumah Retha.” Jawabnya dengan muka penuh semangat dan senyum lebar.
Dini
: “Reth aku langsung
kerumah kamu aja soalnya aku tidak berani pulang sendirian, kalo sama kamu Reth aku aman. Kan kamu psiko juga .. eh hehe.”
Retha : “Terserah Din.”
Dini : “Hehe canda , ayo lah.”
Setelah membuat kesepakatan, akhirnya mereka setuju untuk menginap dirumah Retha. Tanpa fikir dan banyak penjelasan mereka selalu mengaitkan hal yang tidak begitu besar pada psikopat. Namun, mereka malam ini akan mencari jawabannya dari masalah sepele yang mereka alami tersebut. Mereka berkemas dengan buku-buku yang berantakan diatas rerumputan.
20.02 pm
Dini : “Kok kamu biasa aja sih Reth?”
Retha : “Maksudnya?" Sambil memainkan ponselnya dan earphone yang digunakannya.
Dini : “Gak ada takut atau cemas atau apa gitu?”
Retha : “Biasa aja.”
Dini : “Biasa aja biasa aja
terus, mana sih Tara? Tapi bukan Tara namanya kalo tidak telat.“
Retha : "Cerewet banget Din."
Dini : "Bodo."
Tidak lama kemudian ..
Tara : “Maaf telat, udah hampir jam 9 ya.” Menyeringai.
Retha : “Sampai jam 12 juga gak apa-apa.”
Tara : “Gitu banget hehe” Langsung duduk disebelah Retha.
Dini : “Yaudah, terus mau ngapain?”
Retha : "Aku ambil cemilan
dulu"
Dini :"Yang banyak Reth hehe."
Retha : "Berisik bawel." Jawabnya sambil meninggalkan tempat duduknya.
Dini :" Hehe, ohiya Tar kamu telat mulu."
Tara : "Hehe maaf , kamu ngapain aja selama nunggu aku sama Retha?
Bukannya Retha orangnya ngebosanin?"
Dini : "Haha iya bener haduh dia itu nyebelin tapi aku enggak bosan
buat resehin dia. Eh mumpung Retha tidak ada nih, kamu ingat tidak Retha pernah bilang rumahnya kalau mau matikan lampu tinggal tepuk tangan aja sekali."
Tara : "Ohya? . . Ah iya aku ingat. Mau coba?"
Dini : "Boleh hehe kamu deh coba."
Tara : "Satu, dua, tiga." *PAK*
Lampu padam.
Menepuk tangannya dua kali dengan jeda lalu lampu padam sebentar lalu hidup kembali.
Tara : "Ohya? . . Ah iya aku ingat. Mau coba?"
Dini : "Boleh hehe kamu deh coba."
Tara : "Satu, dua, tiga." *PAK*
Lampu padam.
Menepuk tangannya dua kali dengan jeda lalu lampu padam sebentar lalu hidup kembali.
Dini : "Tar, aku tadi kaya ngeliat bayangan dijendala, berdiri dijendela belakang kamu."
Tara : "Retha kali."
Dini : "Apa iya? Tapi bayangannya bawa.. Ih serem Tar. Ngh." Jawabnya sambil mengepit pipinya dengan kedua telapak tangannya.
Retha :"Lagi ngomongin apa? Bantuin bawa coba." Membawa makanan yang banyak
Dini : "Yeey makan makan."
Tara : "Minum air putih doang Reth?"
Retha :"Untung aja aku sediain makanan banyak, minum mau request
juga?"
Dini :"Iya nih Retha pelit, hu dasar psiko pelit."
Tara :"Yaudah aku keluar dulu beli minum, makananya jangan dihabisin."
Retha :"Hati-hati sudah malam."
22.07
Cukup lama waktu berlalu. Mereka belum mendapatkan tanda apa-apa. Saat itu Retha tengah baring diruang tamunya sendirian sambil membaca buku (ps: Jangan dicontoh ya, tidak baik membaca buku sambil baring. Nanti matanya rusak. Hehe) . Dini datang kembali dan bergabung lagi dengan Retha diruang tamu.
Dini : "Engga
bosan Reth dari tadi baca buku?"
Retha : “Lega BAB?”
Dini : “Iya udah lega
hehe . Ohiya, Tara mana?” Dengan memutarkan matanya pada seluruh ruangan.
Retha : “Belum pulang.”
Dini
: “Oh, tadi aku nemuin
ini diwastafel.” Mengeluarkan selembar kertas dari
saku bajunya memberikannya
pada Retha.
Retha : “Apaan nih?”
Turn. 1+1 = min 22CT3
Dini : “Enggak ngerti
juga, mungkin kode jawaban ujian matematika?”
Retha
: “Mmm. Oh! Ini kode, pernah baca Riddle gitu? Kode-kode ginian biasanya sering dipakai. Tapi siapa yang ninggalin ini?”
Dini : “Ga tau. Yaudah terus mau
diapain?”
Retha : “Kalo gak salah kakak aku jago soal ginian. Dia sudah tidur belum ya?”
Setelah menemukan kertas bertuliskan kode aneh tersebut, Retha dan Dini menuju kekamar Kakaknya yang dimaksud untuk mencari apa artinya.
Tok Tok Tok.
Retha : "Kak sudah
Tok Tok Tok.
Retha : "Kak sudah





