Rabu, 06 April 2016

Blood Or Tears (Chapter 1)

(Jane POV)


"Akh jangan lakukan ini aku mohon."

"Aaakkhhh telingaku sakit , hentikan ini !!"

"Hah hah siapa? Perlihatkan dirimu!! "

"Akhhh!! Punggungku !! Hentikan menggoresnya dengan benda tajam !!"

"Tolong bukakan benda ini dari mukaku aku sesak."

"Akh itu sakit apa yang kau lakukan dengan rambutku?"

"Aku mohon , siapa kau sebenarnya?"

"Hentikan ini semua aku takut."

"Akkhh aaaaaaaaakkhhh aaaakkhh ."

"Jariku .. jariku.. "

"Kau memotong jariku ?"

"Kau memotong jariku !!"

"Kau !!"

"Kau!!!!




........



Hah hah hah
Saat aku bisa membuka mata aku tersadar , itu hanya mimpi. Aku selalu mendapat mimpi buruk akhir akhir ini. Saat aku terbangun ternyata kakak, ada saja yang dilakukan kakak terhadapku saat dia tertidur diranjangku dan kali ini dia menggigit jariku. Masuk di Universitas Yale. Aku tinggal bersama kakak, dia selalu menemaniku diapartemen tetapi hanya saat dia sedang cuti.


Dan perkenalkan namaku Jane Heigl.

...


Blood Or Tears


"Pagi Kak, kau sudah bangun?"

"Ehm pagi Jane , kau bangun pagi sekali hari ini. Tidurmu nyenyak?"

"Nyenyak sekali, aku langsung pergi kekampus. Dan ohya kapan kau datang? kenapa kau bisa diranjangku ? Lihat semua pakaian dalam mu dilantai kamarku, bereskan semua. Aku pergi."

"Aku tidak yakin kapan aku datang, aku ingin memberi suprise ternyata kau sangat menarik saat tertidur, hati hati Jane serahkan semuanya padaku haha!!"

"Ya ya."


Saat aku akan memasuki gerbang besar ini , ini seperti hari pertamaku pergi kekampus. karna selama satu bulan kemarin aku ingin fokus menulis novel dan bersenang senang bersama Joe. Jonathan Turner atau Joe dia kekasihku , kami menjalin hubungan baru lima bulan entah aku sudah mengenalnya atau belum dia orang yang sangat dingin dan tertutup tetapi aku mencintainya. Masuk keprogram kedokteran hanya untuk memenuhi keinginan orang tua. Ku harap kakak tidak tau keadaan ini.


Diruang praktek
"Sudah sekian lama tidak menghadiri kelas tetapi keberanianmu memotong dan menyayat tubuh selalu yang terbaik , Jane."

"Ini tidak masalah Al ini hanya mayat kan?."

"Wah kau sungguh sungguh."

"Siapa dia?"

"Siapa? Ah itu Sam yang bodoh. Kau tidak mengingatnya setelah kau bersenang senang?"

"Bukan dia, dibelakangnya."

"Clack tepat sekali, sudah kuduga kau akan tertarik dengannya, dia baru pindah selama kau tidak hadir. Tanpamu aku bisa bersenang senang dengannya." Sahut Alice dengan mengedipkan satu mata.

"Namanya?"

"Namanya mmm maka dari itu kau harus menghampirinya , dan tanyakan padanya."

"Kau tidak tau namanya?"

"Hanya belum tau saja."

"Kau bilang tadi bersenang senang dengannya , ah sudahlah aku tidak berniat ingin tau. Dia tidak 
mempunyai teman ? Kurasa dia kesepian."

"Aku terus mengamatinya, tapi tidak satupun ada respon saat dia diajak berbicara. Dengan siapapun."

"Sungguh?"

"Tidak, aku hanya bercanda."

"Alice kurasa kulitmu sangat mulus, dan kau lihat aku sedang meggenggam pisau."

"Ah hehe maksudku iya, dia hanya tersenyum dan selalu tersenyum."

"Begitu, dia memang manis." Jawabku terpana.

"Jane! Apa kau akan mengiris mayat ini sambil menatap laki laki itu terus menerus?  Mungkin bisa saja kau  mengiris tanganku sambil menatapnya seperti sekarang."

"Mau coba?"

"Begundal ini , apa aku masih dianggap teman oleh mu."

"Aku penasaran."

"Kau bicara apa?"

"Ah tidak."

...


Apa kakak menggigit ku sangat kuat semalam saat aku tertidur? Bekas gigitannya masih ada.
Diruang praktek sangat menyeramkan saat sedang sendiri terlebih lagi sedang mencuci tangan. Ruangan yang dingin , sunyi dan hanya aku berdiri didepan kaca yang luas ini. Bagaimana aku bisa sesantai ini dan teganya Alice pergi tanpa diriku. Aku seperti anak baru yang tidak mempunyai siapa siapa sekarang.


"Diruang ini bisa untuk wanita dan laki laki dan kenapa hanya ada aku yang cuci tangan disini? hm." Gumamku sambil menunduk mencuci tangan.


"Kau tidak sendiri."

Tiba tiba terdengar suara tepat di telinga kanan ku.


"Hah siapa kau?" Teriak ku.

"Kenapa terlalu terkejut? Aku tidak membunuhmu."

"Seseorang berbisik ditelingaku bagaimana aku tidak terkejut." Lanjut mencuci tangan.

"Aku hanya mencoba menyapa, apa aku terlalu menakutimu? Yang kutau kau dari tadi hanya melihat kearahku saat dikelas." Jawabnya sambil nyengir.

"Kenapa aku harus menoleh kearahmu? Yang benar saja."

"Ah bearti aku yang salah , maaf namaku Steven. Steven Stayner, lalu kau?"

"Aku tidak bertanya." Jawabku sambil melihatnya dari kaca.

"Wah sepertinya aku salah lagi maaf kufikir kau ingin tau. Dan .. kau mempunyai jari yang manis, siapa yang berani melukakan itu pada jari jari manis mu sampai kau berdiri disini hampir 30 menit."

"Bukan urusanmu." Sinis melihat matanya.
...

Aku langsung pergi setelah menjawab pertanyaannya, atau bisa dibilang aku mengacuhkannya lalu pergi meniggalkannya.


Manis , dingin , keren , tampan , perfect.
Tidak, dia nyebelin , banyak bertanya , ingin tau segalanya, dan seperti tau segalanya.
Sebelum aku keluar dari pintu itu aku sempat menoleh kebelakang melihat dirinya dari kaca yang didepannya dia sedang menuci tangan, sambil tersenyum lebar. Lalu dia menatap tajam kearah kaca melihatku dan dia tidak lupa tersenyum lebar,lagi. 
Dia misterius.

4 komentar: